Tidak bisa dipungkiri, Spider-Man: No Way Home adalah fenomena budaya pop yang berhasil mengguncang bioskop seluruh dunia. Menggabungkan tiga generasi Spider-Man (Tom Holland, Tobey Maguire, dan Andrew Garfield) ke dalam satu layar adalah mimpi basah para penggemar komik yang menjadi kenyataan. Film ini bukan sekadar ajang nostalgia massal, melainkan ujian terberat bagi Peter Parker versi Marvel Cinematic Universe (MCU).
Setelah rentetan aksi memukau melintasi Multiverse, film ini ditutup dengan salah satu ending paling gelap, emosional, sekaligus paling berani dalam sejarah film Marvel. Peter Parker kehilangan segalanya, namun justru di titik nadir itulah ia benar-benar lahir sebagai Spider-Man yang seutuhnya. Mari kita bedah makna di balik ending No Way Home dan ke mana arah cerita Si Manusia Laba-Laba selanjutnya.
Konflik puncak terjadi ketika langit New York robek, dan ribuan penjahat dari seluruh Multiverse bersiap masuk ke MCU karena mereka tahu siapa Peter Parker. Untuk menyelamatkan realitas, Peter Holland membuat keputusan paling menyakitkan: ia meminta Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) merapal mantra untuk membuat seluruh alam semesta melupakan keberadaan Peter Parker.
Mantra ini berhasil mengusir para varian kembali ke semesta masing-masing, namun dengan harga mahal. Identitas Peter Parker terhapus dari dokumen negara, internet, dan yang paling menyesakkan, dari ingatan orang-orang yang ia cintai: MJ (Zendaya), Ned (Jacob Batalon), dan Happy Hogan (Jon Favreau). Spider-Man tetap dikenal dunia sebagai pahlawan anonim, namun Peter Parker secara harfiah tidak pernah ada di dunia ini.
Salah satu adegan paling menyayat hati adalah ketika Peter mengunjungi kedai kopi tempat MJ bekerja dengan niat mengembalikan ingatan mereka. Namun, melihat luka di dahi MJ akibat pertempuran sebelumnya, Peter menyadari sebuah kebenaran pahit: berada di dekatnya hanya akan membawa bahaya bagi teman-temannya.
Alih-alih menceritakan kebenaran, Peter memilih memendam rahasianya. Ia membeli kopi dan berjalan keluar, melepaskan cinta dan persahabatannya agar mereka bisa hidup normal, masuk ke MIT, dan terbebas dari kutukan menjadi teman seorang superhero. Pengorbanan diam-diam inilah esensi sejati dari pahlawan Marvel.
Selama ini, Spider-Man versi MCU sering dikritik karena terlalu bergantung pada teknologi canggih buatan Tony Stark (Iron Man) dan selalu dibimbing oleh sosok mentor dewasa. No Way Home meruntuhkan semua privilese itu.
Di adegan penutup, kita melihat Peter menyewa apartemen kumuh kecil di New York, sendirian, belajar untuk ujian kesetaraan (GED), dan memonitor radio polisi. Tidak ada lagi Stark Industries, tidak ada AI canggih, dan tidak ada nanoteknologi. Ia menjahit kostumnya sendiri menggunakan mesin jahit tua. Kostum baru berwarna merah-biru klasik ini berkilau cerah saat ia berayun melintasi Rockefeller Center yang bersalju. Kini, ia benar-benar menjadi "Friendly Neighborhood Spider-Man"—pahlawan kelas pekerja yang berjuang sendiri di jalanan, persis seperti di komik klasik aslinya.
Meski cerita utama terasa selesai, ada petunjuk krusial tertinggal di adegan mid-credit. Eddie Brock (Tom Hardy) dari Sony Universe yang sempat terseret ke MCU, dikembalikan lagi ke dunianya oleh mantra Strange. Namun, secuil symbiote hitam tertinggal di meja bar Meksiko.
Potongan symbiote ini kemungkinan besar akan menemukan jalannya ke New York dan bersatu dengan Peter Parker di film selanjutnya, membuka peluang adaptasi alur cerita Black Suit Spider-Man yang legendaris. Di masa di mana Peter sedang merasa kesepian, marah, dan terisolasi, pengaruh symbiote akan menjadi ujian psikologis yang sangat menarik untuk dieksplorasi di Spider-Man 4.
Spider-Man: No Way Home bukanlah sebuah akhir, melainkan cerita origin sesungguhnya bagi Peter Parker versi Tom Holland. Dengan kehilangan segalanya, ia baru benar-benar memahami beban dari pepatah Paman Ben (atau Bibi May): "With great power, there must also come great responsibility." Masa depan Spider-Man di MCU kini terbuka lebar, lebih membumi, mandiri, dan penuh dengan potensi konflik jalanan.
Apakah MJ dan Ned akan kembali di film Spider-Man berikutnya? Tom Holland, Zendaya, dan sutradara Jon Watts telah memberikan isyarat bahwa trilogi baru sedang dikembangkan. Sangat besar kemungkinan takdir akan kembali mempertemukan Peter dengan MJ dan Ned, entah apakah ingatan mereka akan kembali atau Peter harus memulai pertemanan dari awal.
Apakah Spider-Man MCU masih merupakan bagian dari Avengers? Di mata dunia, Spider-Man tetaplah pahlawan super yang ikut menyelamatkan bumi dari Thanos. Avenger lain mengingat Spider-Man, tetapi mereka tidak tahu bahwa orang di balik topeng tersebut adalah anak remaja bernama Peter Parker.
Kostum apa yang dipakai Peter di akhir adegan? Kostum penutup tersebut adalah kostum jahitan tangan Peter sendiri. Desainnya sangat terinspirasi dari kostum klasik buku komik era Steve Ditko dan John Romita Sr., dengan warna merah dan biru yang lebih mengkilap dibanding kostum-kostum teknologi Stark.