Marvel Cinematic Universe telah memperkenalkan perang purba antara dua kerajaan kosmik raksasa: Kree (kekaisaran otoriter militeristik) dan Skrull (ras reptil shapeshifter). Meskipun MCU memodifikasi banyak elemen ceritanya melalui Captain Marvel dan Secret Invasion, sejarah komik Kree-Skrull adalah salah satu saga paling masif dalam literatur fiksi fiksi sains.
Jutaan tahun yang lalu, ras Skrull pada awalnya adalah ras kosmik yang beradab dan cinta damai. Mereka menemukan planet Hala, tempat tinggal bagi dua spesies primitif: Kree yang beringas dan Cotati (spesies tumbuhan berakal).
Skrull menawarkan teknologi canggih dan keanggotaan dalam kekaisaran mereka, namun dengan syarat hanya ras terbaik yang boleh mewakili Hala. Skrull mengadakan tes kompetisi, dan mereka akhirnya memutuskan bahwa spesies tumbuhan Cotati lebih layak.
Karena ego dan kemarahan, bangsa Kree yang biadab bereaksi dengan membantai para Cotati dan duta besar Skrull. Mereka mencuri kapal bintang serta teknologi Skrull. Dari sinilah Kree memulai revolusi industri mereka sendiri, membangun armada perang, dan bersumpah menghancurkan Kekaisaran Skrull selamanya.
Dalam versi MCU, dinamika Kree-Skrull sedikit dibalik demi menciptakan resonansi moral yang lebih modern.
Di film Captain Marvel (2019), kita melihat bahwa Kekaisaran Kree yang dipimpin oleh Supreme Intelligence adalah tiran penjajah. Bangsa Skrull justru digambarkan sebagai pengungsi yang kehilangan planet asal mereka (Skrullos) akibat genosida Kree. Mereka menyamar bukan sebagai trik untuk menguasai bumi (awalnya), melainkan demi bertahan hidup dan menghindari pelacak Kree.
Lama kelamaan, kebaikan manusia dan janji Nick Fury untuk mencarikan rumah baru bagi para Skrull pengungsi ini mulai tidak ditepati (karena Blip dan berbagai krisis bumi). Kecewa setelah 30 tahun menunggu, faksi Skrull muda di bawah pimpinan Gravik dalam serial Secret Invasion memutuskan untuk mengambil alih bumi dari dalam dengan menyusup secara diam-diam.
Mereka menggunakan DNA mutasi untuk menjadi Super Skrull, menguasai kekuatan seperti penyembuhan Ekstremis, pelindung Groot, hingga sihir Cull Obsidian.
Di sisi Kree, fanatisme tidak pernah mati. Kita melihat karakter seperti Ronan the Accuser, seorang ekstremis militer yang tidak sudi menandatangani perjanjian damai. Dalam The Marvels, ras Kree di bawah pimpinan Dar-Benn terancam kepunahan karena deplesi sumber daya, memaksa mereka mencuri udara, air, dan cahaya bintang planet lain menggunakan teknologi Quantum Bands.
Konflik Kree-Skrull membuktikan bahwa jagat Marvel tidak hanya soal superhero meninju supervillain. Terdapat intrik geopolitik antargalaksi yang abu-abu, krisis pengungsi kosmik, dan fanatisme yang berlangsung dari generasi ke generasi.